SEPASANG SAYAP YANG PATAH
Sepasang Sayap Yang Patah
Awalnya, aku hanya melakukannya dengan
kesenangan yang tak ingin kubagi dengan siapapun. Beberapa dari kata-kata yang
kau tulis begitu berharga hingga tak ada satupun yang ingin aku hilangkan.
Meski hanya dengan sapaan sederhana, hal itu perlahan membuat rasa yang tak
ingin berlama-lama di dalam perutku. Warna-warni kupu-kupu yang melilit, hingga
suara-suara ledakan abstraksi yang selalu memecah kepalaku, apa hal ini wajar?
Beberapa
waktu yang menyenangkan itu, aku merasa ingin berada pada tempat yang lebih
indah dari pada padang rumput di dataran Belanda. Lebih daripada itu, setiap
hal yang kau narasikan, selalu mengganggu pemikiran dan pendengaranku. Entah
apa yang bermula dari semua ini, kupikir ini akan menjadi sebuah perjalanan
yang nantinya menghangatkan. Sampai waktu itu tiba.
Apa aku telah membuat kesalahan? Pikiranku
seketika kacau dengan hilangnya jejak yang beberapa hari lalu selalu terpatri
di layar putihku itu. Tiba-tiba saja kau terkontras dengan bayangan abu-abu
yang biasanya selalu membias suasana malam. Aku selalu mencari-cari alasan yang
sebenarnya tak mungkin ada dalam catatan harianku, ataupun dalam arsip
perasaanku. Tentang alasan kau menghilang, meski jejakmu masih samar terlihat. Entahlah, aku hanya
selalu berfikir bahwa ini baik-baik saja. Kau akan kembali, cepat atau lambat.
Kau akan menemukanku lagi meski larut kegelapan masih lama menghantui.
Dan benar saja, aku hanya sedikit tidak
bersabar. Seharusnya dari awal aku sudah tahu, kesibukanmu adalah salah satu
hal yang menjadi sekat diantara kita. Ini yang menjadi kelemahan hubungan kita,
sekat yang terlalu jelas hingga sinar laserpun tidak bisa menghilangkan
pembatas tersebut. Maafkan aku, ini memang kesalahanku.
“Penyuka coffe?” suara yang sangat kukenal.
Saat itulah rasa kehidupanku kembali memuncak.
“Yeah, sesuatu yang seperti itu. Coffe dengan
tanpa rasa pahit di dalamnya” jari-jariku begitu cepat menjawab pertanyaanmu.
“Tak kusangka, baru kali ini aku mendengarnya.
Ada apa dengan rasa pahit?”
“Tidak ada perempuan yang ingin rasa kepahitan.
Dan itu juga berlaku padaku. Bagaimana denganmu?”
“Sama. Tanpa rasa pahit, dan tanpa rasa yang
terlalu manis” aku membayangkan dia tersenyum saat mengatakannya. Akh, aku
sangat ingin melihat garis lengkung darinya.
Ya, wanita dengan aroma kafein. Itulah aku.
Wanita tanpa hal yang muluk dengan citra yang sederhana. Sesederhana permukaan
kopi yang selalu berwarna sama. Lagi-lagi, percakapan kita berakhir dengan
sangat singkat. Tapi tak apa, asal aku dapat menggerakkan jariku untuk lebih
merengkuh jemarimu, aku tidak masalah. Malam memang menjadi dunia kita, dan
akan selalu menjadi tempat kita dalam meghubungkan garis konstelasi itu.
Percakapan kembali menghangat. Meski aku hanya
menjawabnya dengan kata-kata yang sederhana. Tapi asal kau tahu, aku juga ingin
jujur dengan apa yang aku rasakan sendiri. Aku juga menyadari betapa
berharapnya dirimu padaku. Tapi rasanya, aku selalu mengkhianati harapanmu itu.
Meski pada kenyataannya, aku sakit melakukan hal ini.
Kerena ketidakjujuranku dan penolakanku,
akhirnya kau menyerah sendiri. Pada saat itulah duniaku serasa hancur perlahan.
Bahan yang biasanya selalu kau ucapkan, ataupun kalimat yang sering kau
tanyakan, pada akhirnya memudar dengan sendirinya. Bagaimana mungkin aku
baik-baik saja dengan keadaan yang seperti ini? Walaupun, kesalahan ini memang
sepenuhnya dariku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan semakin lama pudarnya
sosokmu dari hidupku. Aku tidak memiliki hak dengan hal itu. Tapi, bisakah kau
bertahan sedikit lagi? Bisakah kau memberiku waktu sampai aku meluruskan diriku
sendiri dan perasaanku?.
Sejak awal aku sudah tahu bahwa kita hanyalah
sepasang sayap yang akan patah. Begitu banyak hal yang tidak bisa aku serahkan
padamu, meski perasaan selalu menyeretku ke dalam hal yang terlalu dalam untuk
aku lewati. Hubungan inipun semakin lama semakin menjadi puing-puing. Ada
saatnya kau menghilang, dan ada saatnya kita kembali ke pengaturan yang semula.
Ketidakpastian yang selalu terjadi ini, apakah kau berniat untuk
menghentikannya?.
Aku ingin menyerah, namun hatiku terus saja
menolak agar pikiranku tidak selalu membebaniku dengan keragu-raguan yang
menjadi akar masalah pada hubungan ini. Aku ingin sekali melepasmu, walaupun
kau sudah memberiku beberapa alasan agar aku tetap mempercayakan perasaan ini
padamu. Dan jika saja aku mampu, aku ingin menjadi orang pertama yang berada di
sampingmu. Jika saja aku mampu, aku ingin memandangmu dengan kedua mataku
sendiri secara nyata. Dan jika aku mampu, bisakah kita bertemu untuk yang
pertama kalinya?
Hal yang ingin aku mampu, dan membuatnya
menjadi mungkin, dan hal yang tak bisa aku palingkan. Bahwa kau dan aku yang
tidak akan pernah menjadi kita ini, akan menjadi bayangan dalam diri
masing-masing. Aku tidak berharap kau juga merasakan hal yang sama, aku juga
tidak ingin memaksa keinginanmu untuk lebih memperhatikanku. Aku juga...tidak
ingin kau menjadi lebih sakit karenaku. Karna itulah, aku hanya bisa
memberikanmu harapan palsu.
Lalu, akan aku apakan perasaan yang selalu
menggerus dadaku setiap waktu ini? bagaimana cara agar aku bisa menghilangkan
sosokmu dari ingatanku? Setiap apa yang aku jalani, apa yang aku rasakan, aku
masih saja mengingatnya dengan jelas. Kupikir, jarak yang membentangi kita akan
sedikit membuatmu pudar. Tapi tetap saja, inikah perasaan yang selalu orang
bicarakan setiap saat itu? Apakah rasanya memang seperti ini?
Aku ingin pergi! Itu yang selalu aku katakan.
Malam yang selalu menungguku, kini telah aku tinggalkan demi ambisiku itu.
Kepergianmu sudah membuat hidupku terasa begitu sepi dan terombang-ambing. Dan disinilah aku sekarang! orang yang akan menetap secara diam-diam, menjaga sepasang sayap untukmu.
Komentar
Posting Komentar