TENTU SAJA, UNTUKMU!

Seberapa lama kau menghilang sekalipun, melupakan itu, tidak semudah menghabiskan sepiring kue di atas meja makanmu.  Aku hanya butuh beberapa usaha dan waktu, entah hal itu dapat membuat semua isi kepalaku pecah dari segala macam cara yang harus di tempuh. Ini di luar kendaliku sendiri.
Seberapa kuat ingatan ingin  membuatmu tetap percaya terhadap segala kemungkinan harapan yang akan terjadi, pada saatnya kau akan tahu kapan hatimu harus berakhir dan berhenti. Tapi, apa aku ini? Aku hanya terlalu menyia-nyiakan segala hal yang masih ingin aku lihat di dalam ceritaku sendiri. Membiarkan keadaan selalu berjalan di atas dalih perasaan yang tak ingin menemui ujung dengan mudah. Itu aku, tentu saja.
Katakan padaku, seberapa kuat seorang wanita dapat bertahan di atas kegelisahannya sendiri? Menemukan solusi, itu langkah yang lebih baik. Dari dulu, aku hanya dapat mengingat hal-hal kecil dari sebuah kenangan. Sebuah kata-kata dan pentingnya tindakan, tidak selalu menjadi apa yang orang lain katakan sebagai jalan keluar. Karena itu, aku akan memberikan jejak, bahwa aku pernah berada dalam cerita yang seperti ini. Tentang kau dan aku, dan segala kemustahilan yang akan terjadi.
Sampai sekarang, aku ingin kau ada di dalam mimpiku, dan berfikir hal itu mungkin saja bukan hanya sekedar bunga tidur belaka. Meski akhirnya, aku selalu menyangkal ketidakberdayaanku sendiri. Dulu, aku hanya terlalu ingin menyamakanmu dengan apa yang aku rasakan terhadap apa yang aku pikir diinginkan oleh diriku sendiri. Ya, tentang aku yang selalu ingin mengetahui lebih banyak tentang hidupmu. Hal yang paling aku inginkan, dan terletak di balik bentengmu sendiri. Kau pernah mengatakan, tak ada masalah jika aku ingin memasukinya, dan hal itu membuatku ragu terhadap apa yang ingin aku lakukan.
Hal inipun, sama dengan mengikat sebuah benang yang awalnya tak pernah terhubung. Namun, aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengikatnya. Aku terlalu takut, bahwa saat benang itu terikat, pada akhirnya akan rapuh dan terlepas begitu saja. Ini, terlalu sulit untukku.
Aku membayangkan, bahwa kita adalah dua jendela yang saling berlainan namun tetap berhadapan. Kita dapat membuka tirai bersama-sama, namun tidak akan pernah terjangkau, sejauh apapun usaha untuk merentangkan tangan agar tetap tergenggam.
Pada akhirnya, aku hanya ingin memperhatikanmu. Dekat maupun jauh sekalipun, aku hanya ingin lebih memperhatikan orang yang tak ingin aku miliki itu. Aku ingin lebih lama, membiarkan diriku tetap berpikir bahwa aku dapat sedikit menarik lenganmu kearahku. Menarik sedikit tatapanmu agar dapat dengan mudah aku masuk ke dalam pikiranmu. Aku, hanya menginginkan hal konyol yang seperti itu.

Akan tetapi, aku tidak dapat mengabaikan bahwa kenyataan sekarang, jarak ribuan kilometer telah membentang di hadapanku tanpa sedikitpun ingin berjalan mendekat. Aku tahu, aku hanya harus selalu seperti ini. Menunggumu, tentu saja begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI BALIK BATAS

DUNIA DALAM PERAN