PERAMAL BODOH ITU, AKU!
PERAMAL BODOH ITU, AKU!
Memang benar yang selalu orang katakan, abstraksi warna warni itu
memang menyilaukan. Yah, tidak butuh waktu lama untuk seseorang merasa takjub
dengan kembang api yang seukuran raksasa saat lepas di langit kala itu. Dan
tentu saja, tak ada yang ingin berpikir lebih jauh tentang sebuah kembang api.
Begitulah, kurasa.
Sampai seseorang yang duduk disebelahku berkata “ Menyedihkan,
bukan. Hilang begitu saja saat semua keindahan itu berakhir”.
Aneh, bagiku. Aku tidak tahu bahwa orang lain akan ada yang
berpikir seperti kebanyakan orang tidak ingin pikirkan. Dan dia menyebut hal
itu, seperti sebuah kehilangan. Suatu hal yang berharga, kurasa.
“Maaf, apa kau sungguh berpikir begitu?” Aku memberanikan diri
berkomentar setelah otakku memaksa dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Dia, wanita itu menoleh sebentar lalu mulai terpaku kembali pada
jajaran kembang api. Kupikir, mungkin dia tidak terlalu peduli denganku. Namun,
dari jarak yang berkisar dua jengkal di sebuah bangku halaman ini, aku masih
bisa melihat tatapan matanya dari samping. Ini seperti, saat kau merasa apa
yang kau genggam tak selalu nyaman untuk di genggam kembali. Bukankah hal itu,
menjadi terasa tidak adil?
Yah, setidaknya aku merasa bodoh karena sudah bertanya. Wanita itu
bahkan tidak ingin menjawabnya. Ini memalukan, kupikir. Entah kenapa, aku
seperti mencampuri selai stroberi dengan adonan kopi pahit yang rasanya tidak
akan terasa enak. Perlahan, kuusap tengkuk yang mulai terasa dingin.
“ Itu yang terpikirkan. Yah, setidaknya begitu” Suaranya mulai
terdengar. Aku menatapnya bingung, meski dia tidak membalas tatapanku. “
Lihatlah, cahaya-cahaya itu seperti sebuah mantra. Kebahagiaan selalu ada saat
hati kita mulai dipenuhi hal yang dipikir indah dan menyenangkan. Tapi, tidak peduli
seberapa besar kemungkinannya, pada akhir keadaan itu, semua akan terasa
menyedihkan”. Dia tersenyum, tidak padaku.
Menyedihkan, katanya. Tubuhku masih terpaku berusaha mencermati
setiap kata-katanya. Ini tidak seperti laki-laki biasa pikirkan terhadap
sesuatu. Biasanya, mereka selalu melakukan sesuai apa yang selalu benar bagi
pikiran mereka sendiri. Tapi, pikiran seorang wanita, bisakah kita mempercayai
hal itu?
Dan, oh, aku mulai mengerti untuk apa ucapan itu dilontarkan. Pada
dasarnya, aku ingin memberikan hal yang bisa aku berikan meski berat untuk
sekedar menerima sebuah kata yang orang lain pikir, menyedihkan. Itu benar.
Sebenarnya, hal itulah yang selalu terjadi. Yah, wanita ini benar.
###
Ini tahun keduaku. Jika kau
seorang mahasiswa, kau pasti akan berpikir begitu cepat sebuah waktu berlalu.
Dengan kehidupan yang hanya dipenuhi oleh sebuah tugas, buku, dan penelitian,
tak aneh jika mereka ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan hanya sekedar
berlibur. Tentu saja, itu berlaku padaku. Aku bahkan merasa sedikit muak berada
di dalam kelas seharian, mendengarkan sesuatu yang tidak kunjung aku mengerti,
dan mendengar beberapa ocehan dari teman kelas.
Pria sederhana setidaknya tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal
yang membingungkan. Itu aku, ya dan tidak semua pria sama denganku. Terbilang,
aku mulai mengerti dengan sifat tidak peduli dan membosankannya hidupku. Dan
tak ada yang protes dengan hal itu, termasuk orang tuaku. Mereka juga tidak
terlalu peduli bagaimana keseharianku kuliah, dan nilai seperti apa yang aku
dapatkan. Semua berjalan, seperti apa keadaannya.
Aku membuang nafas, sesekali melirik ponsel yang sepi dari nada
notifikasi. Tidak seperti yang lain, aku tidak pandai berkomentar di sebuah
grup ataupun memulai sebuah chat di media sosial. Dan tentunya, itu yang
membuat ponsel ini terasa mati.
“ Ian, ini untukmu!” aku berbalik saat wanita teman kelas memberiku
sebuah kertas. Dia tersenyum lalu melangkah pergi.
Ya, wanita itu selalu begitu. Ria, itu namanya seingatku. Wanita
menonjol dan aktif di kelas. Dia pintar, seperti yang orang lain pikirkan. Dan,
tidak jarang juga selalu berperilaku aneh. Maksudku, bisa dibilang itu hal yang
menarik. Tak ada yang tidak mengenalnya, karena dia pun sering berinteraksi
dengan orang lain. Aku bahkan berpikir bahwa dia satu-satunya wanita di kelas
yang aku ingat. Entah kenapa.
“Ian, kau tidak ikut juga.” Aku baru tersadar jika Ria sudah ada di
sebelahku. Dia memang tidak menatapku, kerena tangannya masih sibuk menata
beberapa tumpukan kertas.
“Untuk apa?” Tanyaku yang tidak mengerti.
Ria menatapku bingung. “Futsal, maksudku. Aku lihat kau tidak
bermain. Lihat, yang lain mulai mendiskusikannya.”
Tatapanku ke bawah, melihat
ponsel yang masih sepi. “Aku tidak baik melakukan itu. Dan, aku juga tidak
berminat.”
“Oh, benarkah? Aku baru tahu itu!” Ria nyengir seperti orang bodoh.
“Tapi, Ian pasti bisa melakukan hal yang lain, yang juga baik menurutmu”
lanjutnya, lalu mulai tersenyum kembali. Dia seperti merasa puas dengan dirinya
sendiri.
“Tapi, namaku bukan Ian.”
“Eh? Siapa?”
“Zian. Dan sejak awal itu namaku”
Wanita itu tertegun. Lalu tertawa kecil dan bodoh. “Wah, aku salah
lagi. Maaf, aku tidak tahu jika itu namamu. Baiklah, sekarang aku akan
memanggil nama aslimu” Ria berdiri dari duduknya.
“Kupikir, tidak masalah” Suaraku pelan, dan tanpa aku duga. Aku
bahkan terkejut dengan diriku sendiri.
“Apa?”
Sial. Pasti Ria berpikir
yang tidak-tidak. “Ya, itu juga tidak apa-apa”.
“Oke, aku tetap dengan panggilanku”. Kulihat dia tersenyum sampai
kedua matanya menghilang, lalu berjalan pergi.
Ah, membosankan. Aku malah bertingkah bodoh di depannya. Tapi
kupikir, dia tidak terlalu peduli dengan apa yang sudah terjadi. Lagipula,
kudengar dia dekat dengan salah seorang senior di kampus ini. Jadi, tak akan
jadi masalah.
Tunggu, apa yang sebenarnya aku pikirkan?
###
Kopiku telah habis. Dan udara semakin dingin di sore hari.
Bagaimanapun juga, ini sudah di penghujung tahun. Setahuku, di negara lain
pasti musim salju. Semester baru akan di mulai dua bulan lagi. Setidaknya aku
harus menghabiskan waktu liburanku dengan bersantai tanpa tugas yang berarti.
Damai juga, kupikir. Karena selalu terlihat sendiri, bukan berarti
aku tidak memikirkan suasana di dalam kelas yang sudah berjalan setiap hari.
Dan, wanita teman kelasku itu. Kami memang tidak banyak bicara. Dia hanya
sesekali mengirim pesan padaku, itupun masalah tugas. Dan kupikir, terlalu
bodoh juga mengharapkan wanita pintar sepertinya. Dengan berbekal komunikasi
yang terbatas, dan jarak yang tak akan pernah dekat sekalipun. Apa artinya itu.
Ini tidak seperti yang orang lain bayangkan. Aku hanya merasa, dia
menarik. Maksudku, dia selalu melakukan apapun dengan bekerja keras, berbeda
denganku. Dan hanya dia, wanita yang hanya mengajakku bicara disana. Dia memang
berbeda, dan sangat jauh berbeda denganku. Terkadang, aku ingin tahu apa yang
biasa dia pikirkan. Atau, apa yang selalu dia kerjakan di malam hari. Atau,
seperti apa kehidupannya. Atau juga, pernahkah terlintas orang sepertiku di
pikirannya. Membayangkan semua itu, aku hanya akan merasa begitu putus asa.
Karena bagaimanapun juga, itu tidak akan terjadi.
Lalu, saat perayaan tahun baru di kampus kami, aku merayakannya
seorang diri. Bagiku, tidak menarik berkumpul ramai-ramai dengan teman kelas
yang lain. Itu sangat mengganggu. Jadi, kuputuskan berdiam diri di salah satu
bangku taman. Ini lebih sepi, kupikir akan terasa lebih baik.
“Oh, Ian. Kau sendirian lagi”.
Aku mengerjap dengan kaget. Tiba-tiba saja Ria sudah duduk di
bangku yang sama, tanpa memandangku. Aku membiarkannya, karena dia juga tidak
mengatakan apapun. Entah kenapa, aku merasa begitu dekat dengannya.
“Aku benci Tahun Baru, kau tahu”. Aku mendengarkannya. “Dia seperti
peramal, yang menentukan jalan nasibku”.
Ria tidak berbicara apa-apa lagi. Mungkin, dia berhenti karena aku
hanya diam saja dan tidak bereaksi apapun. Yah, katakan saja bahwa aku pria
yang payah. Kau benar, tentang itu. Bukan maksudku, aku hanya terlalu gugup
dengan suasana sepi di sekitarku. Lagipula, siapa yang tidak ingin mendengar
ceritamu. Aku sungguh, sangat menantikan hari ini. Hanya saja, aku belum
mempercayai diriku sendiri.
Sedetik kemudian, terlihat beberapa kembang api meluncur ke langit
malam. Dan kami pun terkontras dengan cahaya-cahaya menyilaukan itu. Aku
meliriknya, tatapannya masih sama saja. Tak ada raut bahagia yang terukir di
mata wanita ini. Apa ini, memang salahku?
Lalu kudengar, Ria mulai bersuara kembali. Dan kalimatnya kali ini,
aku mengerti sekarang. Aku dengan jelas mengetahuinya. Tentu saja aku menyadari
perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Untuk pria yang selalu memperhatikannya
ini, aku bahkan merasa kesal dengan sikap diam dan tidak cerianya itu. Ria,
wanita bodoh ini sedang menderita kehilangan. Dan lebih bodohnya lagi, aku
malah memeluknya tanpa berpikir panjang.
“Kau benar-benar wanita bodoh, Ria!”
###
Komentar
Posting Komentar