Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

DI BALIK BATAS

Untukmu, yang kini berada di tempat yang berbeda. Untukmu, yang merasa begitu berat saat ini. Kau tahu, aku selalu disini. Seberapa jauh pun sebuah jarak, aku masih bisa bertahan dengan segala keraguanku yang tersisa. Karena itulah, menghilang bukan satu-satunya jalan. Ada hal yang tidak dapat kau ketahui, Dan itu berada di setiap langkah yang kau lalui. Berdirilah disini, Aku mungkin, akan lebih jujur dari sebelumnya. Aku mungkin, akan memikirkan hal penting itu sekali lagi, yang seharusnya aku katakan sebelumnya padamu. Dan disinilah, Ketidakberdayaanku itu, akan selalu mengingat apa yang ingin di ingat. Aku menunggu, Meski itu hal yang tidak akan pernah pasti. Aku bertahan, Sedalam apapun rasa sakit yang diterima. Dan sampai kini, Aku hanya mencoba untuk lebih tahu diri. Bahwa pada akhirnya, Aku harus berusaha berdiri sendiri. Disini, di tempatku. Meski begitu, Kau harus berhenti disini. Semakin kau berjalan, Rasa sakit akan terus men...

TENTU SAJA, UNTUKMU!

Seberapa lama kau menghilang sekalipun, melupakan itu, tidak semudah menghabiskan sepiring kue di atas meja makanmu.  Aku hanya butuh beberapa usaha dan waktu, entah hal itu dapat membuat semua isi kepalaku pecah dari segala macam cara yang harus di tempuh. Ini di luar kendaliku sendiri. Seberapa kuat ingatan ingin  membuatmu tetap percaya terhadap segala kemungkinan harapan yang akan terjadi, pada saatnya kau akan tahu kapan hatimu harus berakhir dan berhenti. Tapi, apa aku ini? Aku hanya terlalu menyia-nyiakan segala hal yang masih ingin aku lihat di dalam ceritaku sendiri. Membiarkan keadaan selalu berjalan di atas dalih perasaan yang tak ingin menemui ujung dengan mudah. Itu aku, tentu saja. Katakan padaku, seberapa kuat seorang wanita dapat bertahan di atas kegelisahannya sendiri? Menemukan solusi, itu langkah yang lebih baik. Dari dulu, aku hanya dapat mengingat hal-hal kecil dari sebuah kenangan. Sebuah kata-kata dan pentingnya tindakan, tidak selalu menjadi apa ya...

DUNIA DALAM PERAN

Ini masih pertengahan bulan, seingatku. Kupikir begitu setelah tak terhitung berapa hari yang aku jalani sehingga memutuskan untuk kembali menulis disini. Tak ada yang begitu berharga dalam kehidupanku, karena semua berharga meski sekecil apapun kau memikirkannya kembali. Lihatlah, semua keadaan ini tetap sama saat pertama kali terlihat. Tapi, bisakah kita berpikir kembali tentang masa lalu? Kukatakan, aku membenci ucapan orang lain. Setidaknya, mereka membenarkan apa yang selalu mereka alami dan itu mungkin adalah sebuah kebenaran. Lalu, apa kebenaran dari dirimu sendiri? Sedikit membosankan memang, bertaruh untuk hal kecil yang kita pikir pada akhirnya akan sia-sia. Yah, itu intinya. Lagipula, aku tidak tahu apa kalian mengerti tentang apa yang aku bicarakan. Untuk satu hal disini. Setiap orang selalu memiliki perannya di dunia ini. Entah akan berakhir seperti yang diinginkan ataupun tidak, semua tergantung dari jalan cerita itu sendiri. Lalu, pernahkah kau berpikir peran apa ya...

PERAMAL BODOH ITU, AKU!

PERAMAL BODOH ITU, AKU! Memang benar yang selalu orang katakan, abstraksi warna warni itu memang menyilaukan. Yah, tidak butuh waktu lama untuk seseorang merasa takjub dengan kembang api yang seukuran raksasa saat lepas di langit kala itu. Dan tentu saja, tak ada yang ingin berpikir lebih jauh tentang sebuah kembang api. Begitulah, kurasa. Sampai seseorang yang duduk disebelahku berkata “ Menyedihkan, bukan. Hilang begitu saja saat semua keindahan itu berakhir”. Aneh, bagiku. Aku tidak tahu bahwa orang lain akan ada yang berpikir seperti kebanyakan orang tidak ingin pikirkan. Dan dia menyebut hal itu, seperti sebuah kehilangan. Suatu hal yang berharga, kurasa. “Maaf, apa kau sungguh berpikir begitu?” Aku memberanikan diri berkomentar setelah otakku memaksa dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia, wanita itu menoleh sebentar lalu mulai terpaku kembali pada jajaran kembang api. Kupikir, mungkin dia tidak terlalu peduli denganku. Namun, dari jarak yang berkisar dua jengkal di s...