SI Gadis Tidur dan Mimpinya
SI GADIS TIDUR DAN MIMPINYA
Chapter 1#
Malam itu, hari yang bersalju. Tumpukan busa-busa putih itu menggulung di sekitar sepatu kami yang tebal dan terbuat dari benang wol lembut. Untungnya kami mendapat tempat berteduh di salah satu halte bus jemputan siang-sore di jalanan kota Florida. Tidak banyak juga orang yang berteduh disana dan lebih memilih bersantai di dalam rumah dengan perapian hangat, atau di dalam restoran bertemakan hari natal. Kami hanya berdua, kebingungan dan merasa canggung satu sama lain.
“Apa kau sungguh-sungguh tidak memikirkannya?” Nico mempertanyakan sesuatu yang selalu tidak ingin aku jawab.
“Tidak, aku sudah mengatakannya”.
“Kalau begitu, bagaimana dengan besok? Kurasa aku bisa menjemputmu setelah selesai kuliah pagi”
“Untuk apa?”
“Berbicara sekali lagi, denganku. Elsa, aku tahu kau mungkin saja tidak ingin memberitahuku, tapi kumohon, aku sangat ingin mendengarnya”
Nico berusaha berbaik hati merapatkan jaket tebalku agar tidak kedinginan. Dia pemuda yang baik, dan rumit. Aku beberapa kali mengatakan bahwa Dia misterius, dan tentu saja Nico berpikir jika aku bercanda tentang hal itu.
“Kau tahu, aku hanya tidak bisa menolakmu.”
Ketika mendengar pengakuanku yang satu itu, Dia tersenyum kecil dengan puas. Aku selalu bisa memhaminya, saat Dia mengalami masalah, saat Dia berusaha menutupi sesuatu, atau ketika Dia dengan malu menutupi perasaan dan kegugupannya. Aku tidak tahu bagaimana, hanya saja aku bisa selalu tahu, tentangnya.
...
Gadis itu terbangun dengan mata yang masih setengah mengantuk. Kamarnya masih gelap, dan sepi. Dia tahu tidak akan ada seseorang disana, atau pemuda yang akan berbaik hati membukakan jendela saat pagi dan membuatnya terbangun. Setiap hari, yang ada hanya mimpi aneh yang selalu datang ke dalam tidurnya. Begitu nyata, dan hangat. Namun tetap saja, mimpi-mimpi itu hanya kantong tidur dan tidak akan pernah ada di dunia kehidupannya. Itu ilusi, atau gambaran dunia yang berusaha ingin Dia tempati sendiri.
###
Chapter 2#
Nico membuatku menunggu begitu lama di sebuah supermarket langgananku. Dia berjanji menemuiku disini, tepat setelah kerjaannya selesai di sebuah cafe. Ya, dia bekerja sebagai pelayan cafe yang cukup unik di Madura. Jika kalian ingin datang, kalian bisa memesan segelas matcha latte sambil meminjam buku dengan santai disana. Tempat yang nyaman, dan penuh dengan orang-orang pemikir cerdas. Tapi, aku bahkan tidak pernah pergi kesana. Bukannya tidak mau, hanya saja Nico tidak pernah mangajakku, dan aku juga tidak bertanya tentang alasan itu. Mungkin saja, Dia hanya tidak ingin aku melihanya bekerja, atau bertemu dengan teman-temannya.
“Elsa, maaf aku membuatmu menunggu.”
“Tak apa, aku juga baru selesai membeli barang”
Wajahnya menunduk melihat isi belanjaanku. Dia berusaha menghindari wajahku, atau menatap mataku.
“Nico, aku tidak apa-apa. Aku tahu kau merasa bersalah. Hujan turun kali ini bukan salahmu, aku tidak perlu menghakimimu.”
“Maafkan aku. Lainkali, aku tidak akan begini lagi”
“Kau tahu, aku berharap kau tidak pernah berjanji apapun padaku”
Saat hujan sedikit mereda, aku berboncengan di atas sepeda Nico dan kembali ke kost san ku.
“Jadi, apa?”
“Elsa, aku ingin memberitahumu sesuatu.”
“Katakan saja”
“Aku, kau tahu, ada gadis yang dekat denganku. Dia, membuatku nyaman. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku hanya bingung”
Jujur saja, aku terkejut mendengarnya. Rasanya ada sesuatu di dalam perutku yang meililit, dan terasa mual.
“Jadi?”
“Dia, memintaku..”
“Oke, bukankah itu bagus. Jika kau nyaman, kenapa tidak kau terima saja? Kurasa gadis itu akan menyayangimu”
Nico hanya diam. Matanya memerah menatapku.
“Nico, aku tahu. Tapi, kau tidak bisa berhubungan dengan gadis sepertiku. Itu tidak baik”
“Aku tahu, maaf Elsa”.
...
Segelas teh hangat akan sedikit membuatnya tenang pagi itu. Setelah mimpi menyakitkan tadi malam, Dia berpikir begitu menyedihkannya gadis bernama Elsa itu. Dia tidak tahu siapa, namun rasanya Dia terasa begitu dekat dengannya. Awalnya, Ia pikir mimpi-mimpi itu hanya guyonan saja, dan setiap orang juga akan bermimpi. Jadi, pasti itu mimpi biasa.
Ia ingat sejak kapan mimpi-mimpi itu mendatanginya. Dua tahun yang lalu, kisah tentang dirinya juga menyakitkan mengenai hubungannya dengan seorang pemuda. Selama tiga tahun Dia menyimpan rasa pada salah seorang pemuda satu organisasi yang pernah diikutinya saat kuliah. Dia ingat, Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengatakannya. Hingga sampai lulus, Dia masih memikirkan pemuda itu.
Dan, sekarang. Dia sudah pindah jauh dari tempat dimana Dia pernah mengenal pemuda itu. Namun, rasanya tidak ada yang berubah.
###
Chapter 3#
Semenjak Nico berhubungan dengan gadis itu-aku tidak tahu seperti apa orangnya, pemuda itu tidak pernah lagi datang menemuiku. Kami hanya beberapa kali tidak sengaja berpapasan, berbicara sedikit dan selesai disana semua. Aku tidak tahu, Dia sengaja menghindariku karena merasa tidak nyaman dengan pacarnya-atau karena Dia dilarang oleh pacarnya itu. Yang aku tahu, hidupku seperti padang pasir tanpanya.
Lalu, pada suatu kesempatan, saat tidak sengaja aku melihatnya bertengger di depan Supermarket, Nico berjalan dengan ragu ke arahku. Wajahnya lusuh dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
“Hai, Elsa”
“Oh, kau rupanya Nico. Ada apa? Apa pacarmu sedang ada di dekat sini?”
“Kau tahu, dari dulu aku berharap kau orangnya”
Aku tidak menjawabnya. Tubuhku kaku, dan rasanya perutku jadi mual kembali.
“Elsa, aku mengakhiri hubunganku”
Pundaknya lemas.
“Kau mau ikut denganku sebentar?”
Kami berhenti di sebuah cafe berlantai tiga. Dan dengan ngotot, Nico memaksa untuk duduk di lantai paling atas, dengan cuaca yang sedingin ini.
“Ada apa denganmu, Nico?”
“Aku juga tidak tahu apa yang salah, aku hanya merasa aku tidak bisa mengimbanginya. Dia, Dia sangat baik padaku, dan terkadang sangat begitu cemburu.”
“Bukankah jika begitu Dia sangat menyayangimu?”
“Aku tahu, aku sangat tahu malah. Tapi itu tidak ada gunanya Elsa, tidak ada gunanya saat hanya kau yang bisa aku pikirkan. Bukankah itu aneh? Aku sudah pernah menyerah padamu. Aku pikir, jika aku bersamanya dan menerima dirinya, aku akan jauh lebih baik tanpamu. Tapi tidak, Elsa. Aku malah semakin buruk”
Otakku mengeras. Rasanya lantai ini terasa semakin dingin di tubuhku.
“Aku, juga tidak tahu Nico. Aku tidak bisa memaksamu untuk melupakanku atau sesuatu yang lain tentang diriku. Aku tidak tahu”
“Elsa, aku ingin memilikimu, sangat. Tapi rasanya kau begitu jauh denganku, meski kau saat ini ada di depanku. Jadi, jelaskan apa aku di hidupmu, Elsa?”
Ini Dia. Aku menahan napas, dadaku terasa memburu dan sejenak sangat begitu berat.
“Aku, tidak tahu.”
“Elsa, kumohon..”
“Sudah kukatakan aku tidak tahu, Nico. Aku menyukaimu, tapi aku tidak tahu apa pentingnya perasaan ini untukku. Aku berusaha menutupinya, mengatakan pada diri sendiri ini tidak ada gunanya. Kau pemuda yang rumit, aku hanya tidak yakin apa aku bisa berbagi segalanya denganmu. Aku hanya takut, Nico. Aku takut aku salah dan kau akan meninggalkanku.”
Sial. Air mataku sudah mulai mengalir. Nico dengan pelan mengusapnya. Tangannya dingin, dan sedikit gemetar.
“Apa kau akan percaya jika aku tidak akan melakukan itu, meninggalkanmu?”
“Aku tidak tahu”
“Apa aku bisa artikan itu dengan jawaban, iya?”
“Aku tidak tahu”
“Kalau begitu, aku juga tahu itu.”
...
Mata gadis itu terbuka dengan air mata yang sudah hampir mengering. Dia tidak tahu sejak kapan Dia menangis, rasanya sudah bertahun-tahun. Memorinya tentang masa lalu kembali menyeruak dan menghabiskan segala upaya yang sudah berusaha Dia kubur dalam-dalam. Gadis itu meringkuk dan memeluk bantal yang berada dekat dengannya. Dadanya sakit, Dia tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Malam itu, Dia menangis sendirian dalam waktu yang lama.
#TheEnd.
Komentar
Posting Komentar